Kakakdewa

Jumat, 30 September 2016

Nyanyian Jessica di Ujung Palu Hakim

Nyanyian Jessica di Ujung Palu Hakim


Image result for jessica kumala wongso 

Jessica Kumala Wongso tampak tenang di depan majelis hakim. Pada Rabu, 28 September 2016, untuk pertama kalinya, dia diperiksa sebagai terdakwa di persidangan pembunuhan berencana Wayan Mirna Salihin, karibnya di Billy Blue College, Sydney, Australia. Polisi meyakini Mirna tewas karena sianida yang berada di es kopi Vietnam, di Kafe Olivier, Grand Indonesia, Jakarta Pusat, 6 Januari 2016.

"Silakan bebas aja terdakwa bicara apa saja, mau mengaku atau tidak mengaku, itu tidak ada konsekuensi hukum," ujar jaksa penuntut umum (JPU) Ardito Muwardi kepada wartawan sebelum persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Kemayoran, Rabu lalu.

Persidangan ke-26 perkara yang menjerat Jessica ini dimulai sekitar pukul 10.40 WIB. Molor dari jadwal yang ditetapkan, yaitu pukul 09.00 WIB. Persidangan kemarin cukup menyedot perhatian publik. Buktinya, ruang sidang cukup sesak oleh pengunjung dan awak media yang berupaya mengabadikan jalannya sidang.

Ini adalah saat yang dinanti. Sebab dalam persidangan-persidangan sebelumnya, Jessica tidak terlalu banyak mengomentari keterangan saksi atau ahli yang sudah dihadirkan jaksa penuntut umum atau pengacaranya.

"Saya akan menjawab dalam pemeriksaan saya sebagai terdakwa, Yang Mulia," begitu Jessica selalu menjawab pertanyaan hakim yang memintanya menanggapi keterangan saksi atau ahli.

Kemarin, Hakim Ketua Kisworo memberikan kesempatan pertama kepada jaksa penuntut untuk mengkonfrontasi seluruh temuan atau fakta yang menjerat kepada gadis berusia 28 tahun itu.

Jaksa mencecar Jessica dengan beragam pertanyaan. Mulai dari kedatangan Jessica yang lebih awal. "Karena mengantisipasi macet," jawab dia.
Percakapan di grup Whatsapp, sampai dengan sikap Jessica yang diam saja saat Mirna kolaps. Sementara itu, jaksa lainnya menyoroti Jessica yang mengaku dekat dengan Mirna, namun memilih tidak menghadiri pemakaman karibnya tersebut.

"Ada yang ngaku tantenya Mirna. Dia bilang kalau dia tahu ada temannya Mirna yang taruh sesuatu ke kopinya dan kerekam CCTV, sama ada yang lihat," tutur Jessica.
Pernyataan itu membuat psikologis Jessica terganggu. Apalagi dia datang lebih dulu dari Mirna. "Dia menekankan temannya Mirna yang itu. Saya pikir, Mirna kan datangnya sama Hanie, berarti saya, dong. Itu membuat saya enggak nyaman," ucap Jessica.

Karena itu, Jessica akhirnya memutuskan untuk tidak hadir dalam a‎cara pemakaman Mirna. Jessica mengaku masih terganggu dengan pernyataan orang yang mengaku sebagai bibi Mirna yang cenderung menudingnya.

Meski diberondong bertubi-tubi pertanyaan, Jessica tetap terlihat tenang. Bahkan saat jaksa menanyakan perilaku Jessica yang dinilai janggal dan mencurigakan selama menunggu kedatangan Mirna di Kafe Olivier. Tidak tampak keraguan apalagi sikap gugup selama menghadapi jaksa penuntut.

Dia mantap menatap ke arah jaksa. Tidak pernah terlihat sekali pun dia menundukkan kepala atau mengalihkan pandangan ke arah lain. Dengan suara serak Jessica lancar membeberkan jawabannya.

Koordinator penasihat hukum Jessica, Otto Hasibuan, angkat suara terkait sikap yang ditunjukkan kliennya selama menjalani pemeriksaan di persidangan. Otto mengaku tidak pernah memberikan arahan apa-apa terhadap Jessica.

"Ya sebenarnya seperti yang dilihat, saya tidak pernah beri instruksi apa pun kepada Jessica. Saya katakan, kalau you benar, katakan yang sebenarnya karena itu lebih relaks buat dia (Jessica)," ujar Otto di sela skorsing persidangan, PN Jakarta Pusat, Rabu lalu.
Otto mengaku tidak ingin membuat skenario dalam persidangan kasus 'kopi sianida' ini. Dia juga berkali-kali menekankan kepada Jessica agar tidak ‎melakukan kebohongan, agar menjawab sesuai dengan apa yang sebenarnya terjadi.

"Karena kalau skenario dikejar, ke mana pun bisa ditangkap. Kalau orang buat bohong, kebohongan kecil itu ditutupi kebohongan besar. Kebohongan besar akan ditutupi oleh kebohongan yang lebih besar lagi sampai kebohongan itu sendiri bercerita tentang kebohongan itu. Itu bahayanya," kata dia.

Kakakdewa